Manusia sejatinya bisa mengatur, tetapi belum bisa beraturan contohnya hidup sehat makan sehari 3 x. Tetapi kita bisa makan lebih dari 3x.
Dilihat faktanya dunia sekarang pemahaman diperluaskan malah dipersempit. Contohnya hijab. Sekarang hijab itu sebagai kerudung. Padahal pada zaman dulu kerudung itu bisa hanya dengan selendang.
Sesuatu jawaban itu bisa muncul dengan tiba- tiba. Contohnya disaat kita dzikir lailahaillah kepala kita geleng - geleng. Padahal diarab itu tidak ada. Nah suatu ketika disuatu forum senior- senior pondok berkumpul mendiskusikan kenapa kepala bisa geleng - geleng saat mengumandangkan lafal lailahaillah? Nah dibuka beberapa kitab, dicari dihadist. Sampai menghabiskan beberapa waktu belum terselesaikan juga. Nah rawuhlah pak kyai dengan sikap bijaksananya, dan para santri senior pada hormat (membungkuk). Nah pak kyainya dawuh pada salah satu santri untuk mengambilkan seduhan kopi. Nah diminum minuman kopi seketika didepan para santri. Begitu nikmatnya minum kopi tersebut pak kiyai ngendikan wahhh hmmmm sambil geleng - geleng. Dengan seketika para santri mendapat penyerahan tentang mengapa dzikir lailahaillah bisa sambil geleng - geleng.
Sebegitu dahsyatnya orang jawa memberi nama pada makna sesuatu. Contohnya mules bahasa indonesianya adalah sakit perut. Tetapi didalam bahasa jawa cuma singkat memberi nama dan itu sdh mengartikan maksud tersebut. Pak aniq bertanya " apa arti mules itu adalah sebuah penyakit?. Iya jawab teman - teman. Tidak benar. Bahwa mules itu bisa diartikan efek memulihkan stamina. Telaahlah rempah - rempah apa saja kandungannya. Contoh : bawang merah, jahe, laos, bawang putih. Makanan ( non instant) bisa menjadi obat.
Mengelola diri = pendidikan karakter. Tapi faktanya pendidikan karakter sebagai formalitas. Ki Hajar Dewantara mengartikan mengelola diri yaitu wujud kesadaran diri sebagai manusia alasannya Ki Hajar Dewantara yaitu manusia sebagai titahnya gusti. Titah adalah manusia sebagai jagad, manifestasi.
Pertanyaan dari mahasiswa eko nur fatoni. Tadi dijelaskan manusia sebagai titahnya gusti. Nah dari mana asal sebutan pada manusia contoh sebutan syeh, khabib, ustadz? Pak Aniq jawab "dijunjung berdasarkan satrata ilmu. Syeh zaman dahulu penyebutan untuk orang lebih sepuh. Syeh maknanya berkembang menjadi sesepuh ilmunya atau semakin tinggi ilmunya. Nah sebutan syeh asal mulanya dari penjelasan tersebut. Berbeda dengan titah. Titah yaitu manifestasi. Tuhan ingin dikenali => dipinjami sifat - sifat Allah SWT. Ilmu Allah menciptakan realitas.
Narasi 3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar